Scruooot.... BoooM.... trtrrreeeett ttrreeet rteeeeet AAAAaagh!!!
Gubrak... Aku trjatuh,
Gelap sangat gelap sekali aku tidak dapat melihat apa-apa. Sungguh aneh terpikir olehku "dengan begitu banyaknya mortir yang meledak bukankah langit seharusnya terang", mungkin aku sudah buta, atau pikiranku yang buta. Masa bodoh aku sudah tidak dapat melihat apa-apa, aku akan duduk disini selamanya dan menghabiskan minumanku sambil menunggu kedatangan juru selamatku.
Tempat ini becek dan lembab, aku gemetar aku kedinginan.... seandainya ada selimut jatuh dari langit.
Hei, mungkin saja juru selamatku adalah pasukan musuh dan aku ditembak mati, gimana kalau itu terjadi, aku berfikir sejenak...... dan berkesimpulan, tidak apa jika mereka menembak aku hingga mati mereka tetap juru selamat bagiku, mereka membebaskan aku dari penderitaan-penderitaan duniawi "Free at last"
Karena aku sudah siap untuk meninggalkan kehidpan ini, seketika itu juga tiba-tiba suasana menjadi hening hati dan pikiranku jadi tenang dan damai seolah-olah aku bukan berada di medan pertempuran tetapi seperti sedang berdoa di gereja. Apakah aku sudah meninggal, atau hanya pendengaranku yang rusak, atau mungkin pikiranku yang sudah rusak.... setidaknya aku menikmati perasaan damai ini.
Setelah beberapa saat dalam kebutaan dan kehilangan pendengaran, aku teringat akan motivasiku menjadi sukarelawan perang ini.
Saat itu aku sudah menikah istriku sangat mencintaiku dan dia bagaikan malaikat dalam hidupku seorang yang membuat hidup aku penuh dengan kasih dan kebahagiaan, namanya Alia. Cintanya tulus, pelukannya penuh dengan kejujuran, sapa dan senyumannya penuh keceriaan, bibirnya lembut dan indah, ciumannya mengairahkan, sungguh-sunguh aku adalah seorang pria yang sangat beruntung.
Kami juga sudah memiliki 2 orang anak umur 3 tahun dan 5 tahun, Tinus dan Andi mereka sedang lucu-lucunya setiap ada kesempatan kami bermain di halaman rumput depan rumah. Saya suka sepak bola, jadi permainan yang sering kami mainkan ya bola itu hahaha, saya mau mereka suka bola juga jadi kalau sudah besar mereka bisa nemenin saya nonton bola tiap malem minggu hehehe.
Sangat berat kenyataannya di kemudian hari aku harus meninggalkan mereka semua.
Karena perang sudah mendekati kota kami maka saya menjadi sukarelawan untuk menjaga keutuhan keluarga, saya tidak mau pergi mengungsi karena kebahagiaan kami ada di kota ini, di rumah ini. Kami bertengkar setiap malam mengenai rencana aku menjadi sukarelawan, Alia tidak setuju dia lebih suka kalau kami sekeluarga mengungsi dan membangun kehidupan di tempat lain, tetapi aku terlalu takut bagaimana seandainya di tempat lain keadaanya berbeda dan kami tidak bahagia!! Aku sedih melihat dia menangis terus-menerus karena mencintaiku, tetapi aku seperti pria lainnya berusaha untuk mempertahankan segenggam kebahagiaan yang kami miliki di kota ini.
Tiba-tiba perutku terasa lapar, diamanakah juru selamatku!?
{ 0 komentar... read them below or add one }
Post a Comment