Manusia dengan berkah Agung

Diposting oleh Unknown on Sunday, July 8, 2007

8 Juli 2007
By Gede Prama
 
Orang yang bahagia adalah orang yang sadar dalam batinnya bahwa dialah yang paling hina. Maka, tidak ada pilihan yang lebih baik untuk menemukan kebahagiaan kecuali rendah hati. Akibat meletakan diri sebagai yang paling hina, maka tidak seorang pun bisa menghinanya, ia bahagia di mana saja berada.
 
Di dunia sufi pernah lahir Faried yang agung. Oleh gurunya ia diajari, "Faried kapan saja engkau dipukuli orang, cepat cium kakinya, kemudian pulanglah tanpa rasa dendam."
 
Murid-murid Kristus lama diajari bahwa hanya kasih yang bisa membuat setetes jiwa menjadi lautan Tuhan. "All souls are perfected in love."
 
Bagi segelintir pencari kesucian di jalan Buddha, penderitaan bukan sesuatu yang ditakuti. Ketika memilih antara penderitaan dan kebahagiaan, mereka memilih penderitaan. Terutama karena penderitaan seperti air suci yang memurnikan perjalanan.
 
Inilah contoh-contoh manusia yang berbahagian tanpa tenggelam dalam keserakahan. Mereka memiliki pengertian tentang kekayaan secara berbeda. Contentment the greatest wealth. Dalam rasa berkecukupan inilah letak kekayaan teragung. Orang-orang seperti ini kerap berpesan, saat orang menyebut dirimu agung, bukan karena engkau agung, tetapi karena jiwa mulai tersambung dengan jiwanya jiwa.
 
Orang-orang teistik (Islam, Nasrani, Hindu) memberi simbol angka satu terhadap hal ini. Terutama karena yang dua (diri dan Tuhan) telah menyatu. Orang-orang nonteistik (contohnya Buddha) memberi simbol angka nol akan hal ini. Secara lebih khusus karena semua sudah sempurna apa adanya. Tidak ada lagi hal positif yang perlu ditambahkan, tidak ada lagi hal negatif yang perlu dikurangkan. Terlihat berbeda. Dan biarlah pohon kelapa tumbuh di pantai, pohon cemara tumbuh di gunung. Keduanya bertumbuh indah di tempat asalnya.
 
Maka di Timur pernah lahir pendapat tentang ciri-ciri manusia dengan berkah agung: "memandang perbedaan sebagai keindahan, melindungi diri dengan perisai kesabaran, kekayaannya adalah rasa berkecukupan, hidupnya diterangi matahari kesadaran, dan kalau terpaksa mengeluarkan pedang, ia mengeluarkan pedang kebijaksanaan".
 
Di Barat ada tulisan, "my parent hate me when they know that I am a Buddhist but they love me when they know that I am a Buddha". Orang tua pernah terkejut melihat anaknya karena kerap masuk wihara. Namun, ia cinta sekaligus bangga ketika melihat putrinya menunjukan sifat-sifat bajik setiap hari. Seperti memberi tanda makna, bukan judul agama yang membuat seseorang menjadi agung, tetapi kebajikan dalam keseharian.

{ 0 komentar... read them below or add one }