28 Juni 2007
emosi sang pemberontak meledak-ledak, kepalanya dipenuhi banyak sekali keinginan-keinginan dengan idealismenya;
jantungnya berdetak kencang;
tarikan nafasnya cepat pendek-pendek;
berkali-kali dia membenturkan kepala ke dinding;
menabrakkan tubuh ke dinding;
memukul dinding dengan tangannya;
berteriak-teriak sekuat tenaga tanpa mengeluarkan suara.
dia terpenjara dalam ruang gelap yang lembab;
emosinya seperti dapat menghancurkan dinding-dindingnya;
dia berjalan dengan langkah kecil-kecil;
berputar-putar melewati setiap sudut ruang;
mengucap mantra dengan cepat-cepat;
apa yang harus kulakukan;
apa yang harus kulakukan;
apa yang harus kulakukan.
emosi menjalar ke seluruh tubuhnya;
meletup-letup pada setiap inci tubuhnya;
bulu kuduknya tegang bagai duri belukar;
matanya yang besar terbuka lebar;
"apa yang harus kulakukan;
apa yang harus kulakukan;
kepada siapa aku dapat berbicara;
kepada siapa aku dapat menyalurkan emosiku."
"aku hampir pingsan;
tubuhku bergetar hebat;
keringat membasahi seluruh tubuhku;
tubuhku lemah, tetapi emosiku masih hebat."
"tolong... tolong aku..."
"ke sudut ruangan aku berjalan;
aku berbaring telungkup;
aku mengigil, aku menangis;
perutku mual, aku muntah tapi tidak ada apapun yang keluar dari mulutku."
"apa yang harus kulakukan;
apa yang harus kulakukan;
kenapa Engkau memberikanku emosi yang demikian hebat;
apa Engkau sedang mengujiku;
apa Engkau sengaja membuatku menderita;
apa maksud dari semua ini;"
"memang aku tidak mengerti saat ini;
tetapi, tolong bebaskan aku dari derita ini;
tenangkan badai dalam hatiku;
damaikan jiwaku."
{ 0 komentar... read them below or add one }
Post a Comment